|
Waktu adalah elemen penting dalam kehidupan manusia. Kemampuan untuk mengelola waktu acapkali menjadi kunci sukses keberhasilan seseorang. Namun seringkali juga keinginan untuk ‘mengelola’ waktu dengan efisien justru berujung pada rutinitas yang ketat dan hilangnya momen untuk menikmati hidup yang lebih bermakna.
Dalam bukunya Time Shifting vs Time Management, Stephan Rechtschaffen MD, menulis, “Saya telah mengamati selama bertahun-tahun banyak orang mengalami kekurangan waktu dalam hidup mereka. Mereka merasa frustasi, cemas, panik, tertekan, dan stress. Rasanya seperti ada yang berteriak “Kebakaran!” Meskipun kita sepertinya bisa berlari keluar ruangan, ternyata tidak. Seperti inilah kebanyakan hubungan kita dengan waktu, sepanjang hari sibuk menyikapi pesan yang subtil, “kebakaran, kebakaran, kebakaran…”
Setiap budaya memiliki konsep waktu yang berbeda-beda. Di New Guinea, ‘sesaat’ bisa saja berarti sepanjang pagi karena mereka tidak punya kata untuk jam atau menit. Lain halnya dengan mereka yang hidup dalam hitungan nanodetik. ‘Sesaat’ bisa berarti teramat sangat singkat dimana setiap saatnya kita bertanya berapa banyak yang sudah kita lakukan? Berhasilkah pekerjaan multi-tasking saya? Dan sederet pertanyaan lain. Ada lagi merasa telah bisa menjadi rileks saat ia bisa mengemudi mobilnya sambil makan siang dan mendengar kaset sambil sekaligus bercakap-cakap lewat ponselnya.
Menurut Stephan, cara seperti ini justru memacu derap kehidupan kita. Ia mengusulkan agar kita bisa merubah konsep dari ‘pengaturan waktu’ (time management) ke ‘pengalihan waktu’ (time shifting).
Dengan cara ini kita memahami bahwa setiap momen memiliki ritme tersendiri dan kita mempunyai kapasitas untuk mengembangkan atau menyusutkan ritmenya. Salah satu cara mengalihkan apa yang tengah berlangsung di dunia kita bukanlah dengan berusaha melakukan lebih banyak, melainkan dengan memberi kesempatan diri kita masuk lebih dalam ke momen keberadaan kita.
Stephan menerangkan, “Kemampuan kita beralih kecepatan serta beralih ritme untuk menemukan momen itu dan menjelma di dalamnya, adalah sesuatu yang memungkinkan kita merasakan keutuhan hidup serta mewujudkan hidup sebagaimana yang kita inginkan.”
Dengan cara ini pula kita dapat mencecap hidup yang lebih bermakna dan bahagia. Felicia Huppert, Profesor Psikologi di University of Cambridge menyatakan bahwa hal penting seputar kebugaran mental adalah menyangkut apa yang seseorang bisa lakukan. Dan di bawah ini ada sejumlah langkah yang disarankan untuk bisa kita lakukan dalam upaya meraih hidup yang lebih bermakna dan lebih membahagiakan.
1. Koneksi Menciptakan hubungan baik dengan keluarga, teman, kolega serta tetangga akan memperkaya hidup dan dukungan bagi Anda
2. Aktif Olah raga, dan hobi seperti berkebun atau berdansa, bahkan jalan kaki, akan memberi rasa tenang serta memelihara kebugaran Anda
3. Ingin Tahu Memperhatikan keindahan dalam momen sehari-hari, termasuk juga hal yang tidak biasa, serta merenungkannya. Ini membantu Anda menghargai setiap hal dalam hidup.
4. Belajar Membetulkan sepeda, belajar alat musik, bahkan memasak, tantangan dan kepuasannya bisa memberi Anda kesenangan dan rasa percaya diri
5. Memberi Membantu teman dan orang lain menghubungkan kebahagiaan Anda ke komunitas yang lebih luas dan sangat bermanfaat |
|
|