|
Saat ini banyak perhatian tertuju Ubud karena pembuatan film Eat, Pray and Love yang didasari buku larisnya Elizabeth Gilbert dan dibintangi aktris terkenal Julia Roberts. Filmnya diprediksi akan sukses, sama halnya dengan buku larisnya yang didasari kisah nyata sang penulis yang melepaskan kehidupan mapan nan sukses di Amerika untuk mengenal diri kembali dan menemukan balik gairah hidupnya lewat perjalanannya di Itali, India dan Indonesia. Melakukan perjalanan untuk mengenal diri kembali dan menemukan balik gairah hidup memang tepat dan banyak dilakukan . Dr. Michael Brain, seorang Travel Psychologist berkebangsaan Amerika menyatakan bahwa kita belum mengenal diri kita sendiri sampai kita menguji diri di lingkungan yang berbeda. Saat melakukan perjalanan, kita akan menghadapi budaya dan lingkungan berbeda dari comfort zone kita di rumah. Maka itu banyak orang tetap mencoba mempertahankan comfort zonenya saat berpergian misalnya dengan membawa sambel dan rempeyek kesukaan saat ke Eropa, sementara orang Amerika tetap mencari McDonald saat ke Asia. Atau saat menghadiri seminar di luar kota atau luar negeri, banyak yang tetap bermain dengan teman sedaerah atau senegara daripada berusaha lebih mengenal rekan dari daerah atau negara lain. Ada yang tetap di hotel tanpa berusaha menjelajahi kebiasaan tempat yang sedang dikunjungi. Padahal sebuah perjalanan bisa memiliki arti lebih dalam daripada sekedar mengurangi rasa stress sesaat dan melarikan diri dari rutinitas sehari-hari. Sebenarnya kita akan dapat lebih mengenal diri kita saat berada di situasi yang baru, sehingga mengetahui batasan kemampuan kita. Bukan sekedar berbelanja atau berfoto di tempat wisata, tapi benar-benar ingin mencoba mengerti dan menjelajahi kebiasaan tempat yang kita kunjungi secara sadar.
Saat menghadiri 2009 Ubud Writer and Reader Festival , saya berkesempatan mendengar beberapa penulis membagi pengalaman mereka dalam melakukan perjalanan yang begitu bermakna sehingga menjadikan buku-buku mereka sangat laris. Ada yang sengaja mencemplungkan diri dalam situasi asing seperti Brian Thacker yang melakukan perjalanan keliling dunia secara ‘couchsurfing’ , dimana Brian ‘menumpang’ tidur secara gratis di couch atau sofa penduduk setempat di berbagai penjuru dunia. Namun ada juga Lee Su Kim yang pergi ke Texas untuk mendampingi tugas kerja suaminya sekalian menyelesaikan PhDnya dan disana mengalami geger budaya serta mendapatkan kenyataan bahwa bahasa Inggrisnya ala Cambridge dianggap terlalu canggih . Dan masih banyak kisah menarik lain. Apapun pengalaman perjalanan mereka, namun semua mendapatkan inspirasi untuk menulis buku; dan lebih mendalami kehidupan spiritualnya. Lee Su Kim mendapatkan ilham materi pelajaran kuliah, malah Brian mendapatkan jodoh saat ‘jalan-jalan’. Lebih penting, mereka merasa menjadi lebih pengertian terhadap lingkungan dan orang lain, dan terlebih semakin mengerti diri sendiri. Justru karena berhadapan dengan situasi yang tak lazim dan tak terduga.
Contoh nyata juga dialami oleh sepasang suami isteri psikiater Doreen dan Tim Orion yang meninggalkan praktek sukses mereka untuk melakukan perjalanan setahun dalam bis yang dikendarai sendiri. Pengalaman mereka dituangkan dalam buku larisnya Queen of the Road. Walau awalnya dilakukan sekedar menuruti permintaan ‘midlife crisis‘nya sang suami, namun Doreen akhirnya menyadari bahwa perjalanan penuh petualngan ini membawa balik gairah yang tanpa disadarinya hilang selama ini. Lewat perjalanan ini, mereka menyadari pentingnya keluar dari comfort zone kehidupannya. Merekapun merasa saling mengenal diri pasangannya lebih mendalam.
Dalam praktek psikiatrinya, Doren sering bertemu klien dengan permasalahan ini. Saat para kliennya masih muda dan baru memulai karir dan rumah tangganya, mereka senantiasa tergugah oleh berbagai tantangan kehidupan. Kemudian, pada sebuah titik – biasanya dalam usia 40an dan 50an – justru saat mencapai puncak karirnya, mereka merasakan kehilangan. Mungkin mereka bertanya, “Inilah yang aku inginkan selama ini?” Sudahkah aku puas dengan kehidupan ini? Doreen dan Tim mendapatkan kembali gairahnya lewat perjalanan setahun mengendarai mobil, carnaval dan malah berencana meneruskan perjalanan mereka. Mungkin naik bis, mungkin naik kapal laut. Tentunya, Anda tidak perlu melepaskan kehidupan secara menyeluruh seperti Doreen dan Tim Orion atau Elizabeth Gilbert; namun tidak ada salahnya untuk melakukan perjalanan yang lebih ‘berarti’ untuk menguggah gairah kehidupan dan melepaskan stress secara berkala. Cobalah melakukan perjalanan secara lebih ‘sadar’ sehingga kualitas perjalanan meningkat dari sekedar fisik juga menjadi psikis. Wajar apabila badan yang sudah tidak muda lagi menginginkan kasur yang empuk saat perjalanan; namun cobalah juga lebih menggugah rasa ingin tahu, rasa ingin eksplorasi sama seperti Anda masih bayi. Cobalah cari tahu hal-hal tersembunyi dan aneh di tujuan wisata Anda, cobalah berjalan-jalan sendiri tanpa pemandu wisata. Malah, siapa tahu, ternyata badan kita ternyata merindukan untuk ditantang kembali kemping seperti kala kita masih mahasiswa. Cobalah!
|
|
|