Yudhi Widdyantoro, di jejaring sosial facebook atau dalam menulis kolom di media, sering memperkenalkan diri sebagai “Pengecer Jasa Yoga”. Predikat tersebut diambil karena dia memilih untuk tidak memiliki studio yoga sendiri. Dalam keseharian berkegiatan mengajar, di tengah kepadatan lalu lintas Jakarta, dia berpindah-pindah dari satu studio ke tempat mengajar yang lainnya di seantero kota dan pelosok kampung dengan mengendarai vespa kesayangannya. Tidak hanya di ibukota, tetapi juga ke beberapa kota-kota di tanah air. Pekerjaan yang dianggapnya persis seperti pedagang asongan keliling. Perambahan keterampilan mengajarnya berbanding lurus dengan pengalaman belajarnya. Dimulai pada tahun 1991 di Pusat Kebudayaan India atau Jawaharlal Nehru Indian Cultural Center (JNICC) di Jakarta dengan Professor. GD. Sharma, yang datang dari India, dia kemudian juga belajar juga pada Bapak Yogamurti di Bandung. Pada tahun 2000 dia mengambil kelas sertifikasi sebagai pengajar yoga 200 jam dari Yoga Arts, sebuah institusi yoga dari Australia yang terakreditasi oleh International Yoga Alliance (IYA). Melalui sesi-sesi workshop dan retreat dia juga menimba ilmu pada guru-guru yoga senior dari berbagai belahan dunia seperti Olop Arpipi, Patricia Widayat (Bali), Judith Adank (Swiss), Carole Baillargeon, John Leebold (Australia), Melodie Betchelor (Selandia Baru), Prasant Iyengar, Geeta Iyengar (Pune, India), Louisa Sears, Jesse Chapman (Australia), Donna Farhi (Selandia Baru), TKV. Desikachar (Chenai, India), Desiree Rumbough, Maritza (USA), Sarah Powers. Tidak saja yoga asana dan pranayama, dia juga belajar anatomi tubuh secara khusus pada Paul dan Suzie Grilley (USA) yang kemudian dikenal juga sebagai pengembang Yin Yoga. Yudhi juga mendalami Yin Yoga dengan beberapa kali mengikuti program teacher training dari Sarah Powers dan Victor Chng. Sebelum berkenalan dengan yoga, Yudhi menari Jawa klasik dan berlatih silat Merpati Putih. Sekarang, selain yoga olah tubuh, dia juga belajar olah pikiran dan olah rasa lewat meditasi, serta mempelajari falsafah kehidupan lainnya, baik melalui bacaan, seperti buku-buku J. Krishnamurti dan Ki Ageng Suryomentaram, melalui kelompok meditasi dan program retret intensif, juga datang secara langsung seperti dengan Bikkhu Sri Pannyavaro di Mendut. Beberapa kelompok meditasi dan spiritual yang pernah mewarnai perjalanan hidupnya hingga hari ini, antara lain: Brahma Kumaris Spiritual University, Persaudaraan Kejiwaan Susila Budi Dharma (SUBUD), Meditasi Kesehatan Usada Bali, Theosofi, dan diskusi Dharma dengan Guido Schwarze, Rio Helmi di Ubud, Bali. Sedangkan salah satu program retret yang pernah diikuti adalah Vipassana Goenka pada tahun 1998 di Biara Mendut, Jawa Tengah. Dan sejak 2005 secara rutin mengikuti program retret Meditasi Mengenal Diri (MMD) yang dibimbing oleh Dr. Hudoyo Hupudio, MPH. Perhatiannya pada cara kerja pikiran dan falsafah kehidupan bisa jadi terdorong karena dia pernah bersekolah filsafat di Universitas Indonesia dan STF Driyarkara, walau tidak selesai. Sedangkan concern-nya pada lingkungan hidup karena dia pernah studi pembangunan berkelanjutan dan pertanian organik di Bhija Vidyapeth – School of Sustainable Living di Dehradun, India. Adapun perhatiannya pada masalah-masalah sosial dan politik berkembang karena pernah mendapat kesempatan belajar Hak Asasi Manusia di International Academy for Leadership di Jerman atas sponsor FNS, Friedrich Naumann Stiftung. Sebelum menjadi instruktur yoga, Yudhi pernah menjadi pekerja sosial dan sebagai peneliti lapangan untuk program pengembangan masyarakat miskin, serta aktif di beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), antara lain IDe, Indonesian Institute for Democracy Education. Sekarang ini, bersama teman-teman di komunitas Social Yoga Club dia aktif menyelenggarakan Yoga Gembira, suatu kelas yoga “murah-meriah” sambil juga beramal yang dibuat pada akhir pekan secara berpindah-pindah di ruang publik. Untuk mengetahui lebih jauh tentang kegiatannya, dapat diklik di: www.socialyogaclub.com.
|