Satu hal yang berubah drastis adalah evolusi konsep "REN" itu sendiri. Dalam pencarian arti yang paling dalam tentang kebahagaian dan humanisme, akhirnya kita tertantang untuk menjadikan hidup kita lebih bermanfaat bagi orang banyak. Itu pengalaman pribadi yang saya alami. Barangkali karena pengalaman hidup yng bertumpuk itu yang akhirnya memberikan sebuah "wisdom" yang sangat unik tersendiri. Alkisah suatu hari saya sedang berada disebuah toko buku.
Dan melihat sejumlah anak-anak SMP dan SMA sedang asyik membolak balik buku-buku novel yang dipajang di toko. Sayangnya buku-buku itu semuanya terjemahan dari novel-novel luar negeri. Iseng saya bertanya :"Lho, kok bacanya novel-novel terjemahan semua ? Baca dong novel asli Indonesia !"
Mereka semua menoleh dan memandang saya dengan tatapan yang aneh : "Emang ada om, Novel asli Indonesia ?" tanya satu diantara mereka. Saya jadi terhenyak juga. Kalau kita terawang dengan teliti, generasi muda kita terancam cacat sastra. Saat ini kita miskin bacaan bagus, karena penulis dan sastrawan yang ada sangat minim.

Terusik oleh masalah ini akhirnya saya mendirikan sebuah penerbitan
kontemporer yang agresif. Saya beri nama AKOER. Teman-teman saya awalnya menertawai. Katanya kok saya ngak ada cape-cape-nya dan mau mendirikan usaha yang sangat susah bikin untung. "It energize me !" begitu kilah saya. Dan ternyata memang benar. 2 tahun pertama susah banget. Tapi sangat menantang dan seru. Tahun ketiga kita sudah mencetak beberapa buku "best seller", malah ada yang diangkat ke layar lebar. Serta masuk nominasi Khatulistiwa Award. Semua kerja keras dan jerih payah terbayar sudah.

Mpu Peniti, mentor spiritual saya, tertawa ketika saya menceritakan
keresahan hati saya. Ia sendiri sudah sangat lanjut usianya memasuki usia 70 tahun'an. Tapi semangat hidupnya lebih keras dari baja manapun. Dan lebih tajam dari silet buatan siapa-pun. Mental dan cara berpikirnya selalu segar.
"Hidup adalah karya yang tak pernah selesai." Begitu semboyan hidupnya. Ia adalah salah satu inspirasi saya menulis buku 'BIANG PENASARAN' - karena sesungguhnya penasaran adalah biang kehidupan yang sebenarnya. Kurang lebih 20 tahun yang lalu, saya sudah getol memberikan training tentang inovasi diberbagai perusahaan. Namun para CEO dan pemilik perusahaan meledek saya,
"bagaimana mungkin mengajarkan inovasi ? kalau karyawan kita miskin
imajinasi semua ?" Saya pikir-pikir kritik mereka benar juga. Akhirnya saya nekat dan mulai mengajarkan 'IMAGINEERING' proses rekayasa imajinasi menjadi sebuah disiplin rancang bangun. Tak lama kemudian, saya diledek dengan gurauan yang baru "duh.. Karyawan kita ngak sanggup deh punya imajinasi..
Mereka itu ngak punya rasa penasaran sama sekali". Dengan perenungan panjang, akhirnya saya sadar, bahwa dasar sesungguhnya adalah memang rasa penasaran itu.

Akhirnya saya terpaksa menobatkan diri saya menjadi BIANG PENASARAN, dan menulis buku dengan judul yang sama, serta berusaha untuk menyebarkan virus penasaran kemana-mana. Menggugah siapa saja untuk penasaran. Pengalaman-nya memang maut dan ajaib sekali. Penasaran menjadi mantra yang ampuh. Yang
akhirnya membuat saya bersyukur. Persis seperti pesan Mpu Peniti. "Ada dua tipe manusia. Yang pertama menjadi tua lalu layu. Yang kedua lahir kembali setiap hari dengan enerji baru". Manusia yang pertama, hidup berjuang dan bertahan. Manusia kedua hidup berkarya dan berprestasi. Pada akhirnya memang penasaran menjadi gaya hidup yang menyelamatkan diri saya. Dengan penasaran - "you will never getting old - you getting better !". Barangkali disinilah titik pencerahan tentang kemanusiaan yang kita geluti. Tiap hari selembar kertas kosong menjadi arti yang sesungguhnya atau sekedar kata-kata. Keyakinan yang saya geluti adalah selama arti itu menjadi karya, maka ia tidak akan merampas kebelia-an anda. Tapi justru sebaliknya menjadi sumber kebeliaan yang penuh enerji.

 
Page 1 | 2 | 3 | 4