Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, pernah sekali saya berkunjung ke Hong Kong, membawa amanat ayah saya untuk mengunjungi seorang teman lamanya. Yang kebetulan adalah seorang peramal atau FORTUNE TELLER. Teman ayah saya ini dulunya sering ke Jakarta dan punya client list di Jakarta yang cukup lumayan. Tapi sudah lama ia tidak lagi pernah ke Jakarta, karena sudah sangat sepuh dan sering sakit. Pada pertemuan itu, kami sempat ngobrol ngalor ngidul. Dan bercerita banyak hal. Termaksud soal takdir dan nasib.
Saya punya firasat itu bakal menjadi pertemuan saya yang terakhir dengan beliau.

Hampir setahun kemudian, saya mendapat kiriman paket dari Hong Kong. Isinya sepucuk surat dari puteri teman ayah saya, yang mengabarkan bahwa ayahnya wafat hampir 3 bulan yang lalu. Lalu ada sebuah kaligrafi Chinese yang berupa tulisan "REN" atau manusia. Dan sebuah buku diary kosong yang bersampul kulit asli. Beliau menitip pesan pendek :"Jangan sampai hidupmu menjadi halaman-halaman yang kosong". Pesan itu hingga kini sangat berarti buat saya. Selalu terdengar gemanya, dari waktu ke waktu.

Kaligrafi bertuliskan aksara "REN", adalah oleh-oleh hasil diskusi lama
kami. Tentang bagaimana karakter yang sangat sederhana ini menjadi pusat sentral berpikir secara filosofis dan kosmis antara manusia dengan sesama, manusia dan keluarga, manusia dengan negara, manusia dengan Tuhan dan evolusi humanisme itu sendiri. Karena beliau sering menasehati saya tentang menjadi manusia yang utuh dan benar. Usai peristiwa itu tak lama kemudian, saya keluar dari dunia profesi, dan mendirikan usaha sendiri, dibidang konsultan. Cara pandang hidup saya menjadi sangat simple dan sederhana.
Persis seperti karakter atau aksara "REN" dalam bahasa Chinese. Satu tubuh ditopang 2 kaki. Kanan dan kiri. Sebuah citra keseimbangan dan kesetaraan.
Simbol harmonisasi yang ideal.

Tak lama kemudian, saya semakin jarang berbusana formil. Jas dengan
kelengkapan dasi. Saya lebih sering tampil dengan jeans dan kaos polo.
Kemanapun saya pergi. Anehnya masyarakat mengira saya bertingkah neyentrik. Padahal saya mengejar "comfort" dan bukan "style". Pernah sekali saya ditegur klien karena cara berpakaian saya yang sangat tidak formil. Saya cuma tertawa. Lalu saya tanya beliau, mana yang lebih penting, otak dan strategi saya. Ataukah kenecisan saya berpakaian. Akhirnya ia ikut tertawa bersama saya.

Saya jadi tergelitik untuk selalu 'reinventing' kehidupan ini. Bukan karena
serakah dan ingin meraup segalanya. Tetapi menciptakan mozaik kebahagian yang bisa saya nikmati. Mirip menikmati secangkir kopi kental, dan mereguknya, satu teguk demi satu teguk. Perlahan tapi nikmat. Tanpa saya sadari hidup ini akhirnya bergulir menjadi kepompong kehidupan yang sangat asyik. Malah mungkin terlalu asyik. Ketika berumur 40 tahun saya belum menikah. Saya tidak merasa gentar sedikitpun. Saya percaya bahwa tiap halaman kehidupan punya cerita sendiri-sendiri. Yang tetap saja akan asyik dan lain ceritanya. Asalkan saja halaman itu tidak menjadi kosong dan sia-sia.

 
Page 1 | 2 | 3 | 4