|
Idul Adha baru berlalu dan Natal akan tiba dalam berapa minggu. Kesamaan antara Idul Adha dan Natal adalah bahwa sama-sama merupakan hari agama suci dan keduanya melibatkan tradisi saling memberi dan menerima. Saat Idul Adha, umat muslim yang mampu membeli hewan qurban untuk disumbangkan bagi yang kurang mampu. Saat Natal, umat Kristiani saling memberikan hadiah terutama kepada sanak keluarga, teman dan umat yang kurang mampu.
Pihak pemberi bisanya merasakan adanya kepuasaan, karena dapat membagi rejekinya, gembira melihat reaksi yang diberi dan merasa juga dapat mengikuti perintah Tuhan secara baik sesuai kitab suci masing-masing. Dalam Sutta Nipata, sang Buddha menyatakan, “Kebahagiaan tidak pernah berkurang apabila dibagi.” Qu’ran (3:92) menyerukan, “…dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” dan dalam Injil tertera “Adalah lebih bahagia memberi dari pada menerima” (Kisah Rasul 20:35) .
Bagaimana dengan pihak penerimanya? Mereka yang menerima daging qurban, atau kaum papa yang menerima bingkisan Natal memang tidak memiliki pilihan dan bersyukur. Namun bagaimana dengan mereka dari golongan mampu, selalu senang dan bersyukurkah kita mendapatkan pemberian? Umumnya orang senang menerima hadiah; tapi seberapa senangnya tergantung apa yang diberikan, mahal atau tidaknya hadiah dan siapa pemberinya. Kalo kadonya cocok, kita bersyukur tapi kalau kadonya tidak cocok… ngomel atau disimpan untuk diberikan kepada orang lain? Parahnya, malah langsung dikasih ke pembantu atau dibuang. Ada juga yang merasa berkewajiban untuk segera membalas pemberian dengan pemberian lebih hebat lagi. Jadinya seolah-olah menjadi semacam paksaan timbal balik penukaran hadiah.
Ternyata di balik pemberian dan penerimaan hadiah terdapat dinamika kekuasaan. Banyak yang segan menerima sesuatu - baik hadiah, nasihat ataupun bantuan - karena secara intuitif kita menyadari adanya dinamika kekuasaan, dimana si penerima ditempatkan pada posisi lebih lemah. Pernah nggak Anda menolak saran atau bantuan, bukan karena sarannya jelek tapi karena tidak mau mengakui rasa inferior? “Dengan menerima, kita memberikan kekuasaan kepada si pemberi” ujar Prof. Ellen Langer dari Universitas Harvard. Padahal kita biasanya berfikir bahwa menerima adalah lebih mudah daripada memberi!
Lebih lanjut Ellen Langer menyatakan bahwa menerima sesuatu mungkin sulit, dan mungkin saja memicu konflik atau ketergantungan, tapi di lain pihak tanpa menerima, kita tidak mungkin bisa merasakan kedekatan dengan orang lain. Dengan membiarkan diri menyerahkan kontrol, semakin Anda terbuka untuk merasakan kedekatan dengan si pemberi.
Miriam Greenspan, seorang psychotherapist dan penulis buku Healing Through the Dark Emotions: The Wisdom of Grief, Fear, and Despair, percaya bahwa menerima penting untuk memperkaya hidup, walau yang kita terima menyakitkan. “Life is a gift we receive each day,” ujarnya. Namun hadiah kehidupan bisa menakutkan apabila yang kita terima tidak sesuai harapan kita, dan malah menimbulkan rasa frustasi. Padahal hadiah kehidupan beragam: dari yang indah, sedih sampai biasa-biasa banget.
Menerima hadiah kehidupan secara pasrah dan open minded dapat menumbuhkan perkembangan pribadi dan spiritual kita. Dengan menerima sesuatu dengan pasrah, kita sebenarnya tidak begitu saja menyerahkan kontrol atau kekuasaan kita kepada orang lain.. Dengan mampu menerima hadiah kehidupan, kitapun lebih mampu menjadi pemberi yang lebih baik. Mulailah dengan belajar menghargai dan belajar berterima kasih secara ikhlas apapun yang diberi. Dengan menerima suatu hadiah secara senang dan ikhlas, kitapun berkontribusi untuk membuat si penerima hadiah gembira dan merasa dihargai Dengan demikian bisa tercipta hubungan setara yang harmonis dan dekat antara si pemberi dan si penerima.
Sebuaah pepatah kuno mengatakan :”Yesterday is history. Tomorrow is mystery. Today is a gift…that’s why it’s called the present “. Selamat menerima hadiah! |