|
Tak terasa waktu begitu cepat melintas. Sepertinya baru kemarin Ramadhan kita lepas, dalam suasana penuh maaf di tengah hangatnya keakraban bersama keluarga dan karib kerabat. Beberapa hari ke depan, Ramadhan akan tiba lagi bersama rahmat dan berkah dalam nikmatnya ibadah puasa.
Apa yang kerap kita pelajari dari ibadah yang merupakan salah satu Rukun Islam ini? Yang paling sering didengungkan adalah belajar mengalahkan hawa nafsu dalam diri sendiri. Mengambil kuasa dari tangan hawa nafsu yang sering menggiring kita pada tindakan-tindakan tidak terpuji yang tidak bermanfaat baik bagi orang lain juga diri sendiri. Namun jika kita menilik sedikit lebih dalam, puasa merupakan bentuk ‘perlawanan diri’ terhadap potensi keburukan dengan cara ‘damai’.
Kata ‘Islam’ sendiri sesungguhnya berasal dari akar bunyi huruf sim, lam, dan mim. Lambang bunyi yang membentuk kata-kata seperti ‘salam’ dan ‘muslim’. Akar bunyi sin, lam dan mim secara literal bermakna ‘damai’ atau ‘perdamaian’.
Melawan dengan cara damai (nonviolent) bukanlah hal yang aneh. Contoh paling jelas yang bisa kita simak ada pada figur Mahatma Gandhi. Kecintaannya pada kemanusiaan mengajarkannya untuk menebar indahnya kedamaian lewat nilai-nilai yang terkandung dalam ahimsa atau ‘total tanpa kekerasan’. Ajaran yang terbukti membawa India pada kemerdekaan serta menginspirasi pergerakan untuk hak-hak sipil dan kemerdekaan di seluruh penjuru dunia.
Contoh lain perlawanan tanpa kekerasan diurai seksama oleh Sri Eknath Easwaran dalam bukunya “Nonviolent Soldier of Islam: Badshah Khan, a Man To Match His Mountains”. Di situ ia memaparkan bagaimana cita-cita perjuangan dapat digapai tanpa menggunakan senjata. Itu terjadi manakala sekelompok orang tanpa senjata berkumpul di Kissa Khani Bazaar, yang sekarang menjadi Pakistan, untuk melakukan protes tanpa kekerasan melawan penguasa Inggris. Saat mereka menolak untuk bubar, tentara menembaki kelompok itu. Satu-persatu mereka di barisan terdepan rubuh, namun seketika itu juga barisan belakang mengganti. Semua dilakukan tanpa menimbulkan kekisruhan dan kepanikan. Kita semua tahu cerita ini berujung dengan lepasnya India dari jajahan Inggris.
Anggapan tentang lemahnya perlawanan tanpa kekerasan juga dipatahkan Easwaran dalam bukunya itu. Tiga mitos tentang perjuangan “nirkekerasan”. Pertama, nirkekerasan hanya akan berhasil melawan musuh yang lemah. Kedua, nirkekerasan hanya berhasilguna untuk kelompok yang memrotes ketidakadilan, dan tidak tepat untuk negara, atau untuk pertahanan nasional. Ketiga, bahwa nirkekerasan mustahil mengakar pada ajaran Islam. Untuk yang terakhir justru seharusnya Islam, yang mengutamakan belas kasih dan kesabaran di puncak ajarannya, bisa menjadi pengibar perjuangan nirkekerasan, seperti pernah dilakukan para pejuang Intifada generasi awal di Palestina.
Saat ini sebagian orang merasa mulai kehilangan makna Ramadhan. Sementara perayaan menyambutnya lebih banyak berupa aktivitas religius kosmetis yang ujungnya menjurus pada konsumerisme. Mungkin momen kali ini bisa kita jadikan saat untuk belajar memahami perjuangan dalam damai yang terkandung dalam ibadah puasa. Belajar untuk melihat sedikit lebih dalam dan mencari makna tersembunyi itu. Dan jika kita mau melakukannya, mungkin pemboman seperti baru-baru ini terjadi di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton tak perlu terjadi. Ya, kalau saja kita mau, apapun mungkin kita raih.
Mari kita songsong Ramadhan dalam damai! |